Yogyakarta, 12 Agustus 2026 — Kementerian Pertanian memperkuat perannya dalam menjaga dan mengembangkan kekayaan varietas tanaman Indonesia melalui pendaftaran varietas tanaman, termasuk Hoya. Upaya tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan kekayaan sumber daya genetik Hoya terdokumentasi, memiliki identitas, serta dapat dilestarikan dan dikembangkan secara berkelanjutan. Komitmen tersebut ditunjukkan melalui penyerahan Tanda Daftar Varietas (TDV) Hoya yang dirangkaikan dengan peluncuran buku “Hoya Plantation: Plasma Nutfah Genetika yang Dihargai Dunia” dan pameran Hoya serta anggrek spesies yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Pelestari Tanaman Hoya Indonesia (PPTHI).
Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan sekaligus memperkuat upaya pelestarian Hoya sebagai salah satu kekayaan hayati Indonesia. Hoya memiliki keragaman bentuk, warna, corak daun, dan bunga yang tinggi serta berpotensi dikembangkan sebagai tanaman hias bernilai ekonomi.
Melalui Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (Pusat PVTPP), Kementerian Pertanian, pemerintah memberikan dukungan terhadap upaya inventarisasi, pendaftaran, dokumentasi, dan pelestarian varietas Hoya. Bagi Pusat PVTPP, kegiatan ini tidak sekadar seremoni, tetapi menjadi bagian dari upaya mendokumentasikan, mengakui, melestarikan, dan mengembangkan kekayaan varietas tanaman Indonesia.
Salah satu agenda utama adalah peluncuran buku “Hoya Plantation: Plasma Nutfah Genetika yang Dihargai Dunia” karya Hervia Latuconsina Budi. Buku tersebut menjadi dokumentasi penting mengenai kekayaan dan keragaman Hoya sekaligus sarana untuk meningkatkan pengetahuan dan kecintaan masyarakat terhadap tanaman tersebut.
Buku ini diharapkan tidak hanya menjadi dokumentasi, tetapi juga menjadi warisan pengetahuan bagi generasi mendatang. Bahkan, buku tersebut telah mendapat perhatian untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sehingga informasi mengenai kekayaan Hoya Indonesia dapat diperkenalkan kepada masyarakat internasional.
“Hoya Indonesia memiliki kekayaan yang luar biasa. Buku ini merupakan warisan untuk anak bangsa agar kekayaan tersebut dapat terus digali, dikenalkan, dan diwariskan kepada generasi muda,” ujar Hervia.
Menurutnya, kegiatan pelestarian tanaman harus berjalan bersama dengan kegiatan dokumentasi dan penulisan. Perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), perlu dimanfaatkan secara bijak, tetapi tidak boleh menghilangkan budaya belajar, berpikir, meneliti, dan menulis secara langsung.
PPTHI yang telah berbadan hukum dan memiliki jejaring di berbagai daerah juga terus mendorong kegiatan eksplorasi, identifikasi, perawatan, serta dokumentasi Hoya. Dukungan BRIN turut diberikan dalam proses identifikasi dan pendokumentasian berbagai jenis Hoya.
Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan Tanda Daftar Varietas Hoya oleh Kepala Pusat PVTPP yang diwakili oleh Nani Suwarni. Pendaftaran varietas menjadi salah satu instrumen penting untuk memberikan pengakuan administratif sekaligus membangun basis data kekayaan varietas tanaman Indonesia, ujar Nani.
Berdasarkan data Pusat PVTPP, hingga saat ini telah diterbitkan 25 Tanda Daftar Varietas Hoya atas nama Bupati Sleman, terdiri atas 10 varietas pada 2024, 5 varietas pada 2025, dan 10 varietas pada 2026.
Pada kesempatan ini diberikan 15 tanda daftar, 5 varietas yang terdaftar pada 2025 yaitu Arum Pethak, Keningar, Matasari, Re Surai, dan Kembang Roket. Sementara 10 pada 2026 yaitu Si Tangkai Merah, Juntai Pastika, Citra Manah, Patera Garib, Wangijambera, Meta Arunika, Dolipink, Katra Aruna, Manusa, dan Ronsina.
Nani menegaskan bahwa pendaftaran varietas bukanlah akhir, melainkan awal dari tanggung jawab untuk menjaga identitas, keberadaan, dan keberlanjutan varietas tersebut. Karena itu, varietas yang telah terdaftar perlu terus dilestarikan, dikembangkan, dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Potensi Hoya tidak hanya berada pada aspek konservasi. Keragaman Hoya Indonesia juga memiliki peluang ekonomi yang besar. Hoya telah diminati oleh pasar internasional, termasuk Thailand dan negara-negara Eropa.
Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, pemerintah daerah, komunitas, pemulia, peneliti, pelestari, dan pelaku usaha menjadi penting untuk mengembangkan Hoya dari sekadar tanaman koleksi menjadi komoditas tanaman hias yang memiliki nilai ekonomi.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menyampaikan bahwa sumber daya genetik merupakan kekayaan yang menjadi tanggung jawab bersama untuk dijaga. Upaya pelestarian juga harus melibatkan generasi muda.
“Seharusnya yang menjaga bukan hanya yang sudah pensiun, tetapi juga anak-anak muda. Bagaimana alam memberikan manfaat dan bagaimana kekayaan yang kita miliki dapat terus dikembangkan,” ujarnya.
Pemerintah daerah juga masih memiliki pekerjaan rumah untuk mengembangkan varietas yang telah terdaftar agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Sejumlah kegiatan seperti Jogja Benih, Tani Lestari, dan berbagai pelatihan diharapkan dapat menjadi ruang untuk memperkuat pengembangan tanaman dan sumber daya genetik daerah.
Ke depan, berbagai tanaman potensial juga akan diperkenalkan dan dikembangkan melalui kegiatan di daerah, tidak hanya Hoya dan anggrek, tetapi juga tanaman lainnya seperti pisang.
Melalui kegiatan tersebut, Hoya menjadi contoh bahwa kekayaan Indonesia dapat berawal dari titik-titik kecil yang kemudian memberi warna bagi negeri. Tanaman yang dirawat dengan baik, pengetahuan yang ditulis, serta varietas yang didaftarkan dan dilindungi merupakan investasi pengetahuan dan kekayaan hayati untuk generasi mendatang.
Kementerian Pertanian melalui Pusat PVTPP akan terus mendukung kemudahan pendaftaran varietas tanaman serta memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan. Dengan sinergi tersebut, Hoya diharapkan semakin dikenal sebagai bagian dari kekayaan hayati Indonesia sekaligus memiliki daya saing di tingkat nasional dan internasional.
Dilihat 13 kali
Ikuti terus informasi terbaru
Supaya selalu up-to-date!