JAKARTA - Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PVTPP) Kementerian Pertanian menegaskan bahwa regulasi yang adaptif menjadi kunci dalam mempercepat pemanfaatan teknologi genome editing guna menghasilkan varietas tanaman unggul yang mampu menjawab tantangan perubahan iklim sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Hal tersebut mengemuka dalam PVTPP on Talk (PoT) Series #105 bertema “Navigasi Regulasi Genome Editing dari Laboratorium Menuju Komersialisasi” yang mempertemukan pemerintah, akademisi, peneliti, dan pakar bioteknologi untuk membahas arah kebijakan pengembangan teknologi penyuntingan genom di Indonesia.
Kepala Pusat PVTPP, Leli Nuryati, mengatakan perkembangan inovasi genome editing di dunia pertanian berlangsung sangat cepat. Namun, kemajuan teknologi tersebut harus diimbangi dengan regulasi yang mampu memberikan kepastian tanpa menghambat inovasi.
“Teknologi genome editing berkembang sangat pesat. Yang sekarang harus kita bicarakan adalah bagaimana regulasinya sehingga inovasi tersebut bisa dimanfaatkan secara optimal,” ujar Leli, Jumat, 31 Juli 2026.
Menurutnya, kebutuhan akan varietas unggul semakin mendesak seiring dampak perubahan iklim yang mulai dirasakan di berbagai daerah. Ia mencontohkan kondisi di Sukabumi yang memiliki karakter wilayah berbeda dalam satu kabupaten.
“Wilayah selatan lebih banyak mengandalkan tadah hujan sehingga lebih rentan mengalami kekeringan, sedangkan wilayah lain masih memiliki pasokan air karena didukung jaringan irigasi. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa kita membutuhkan varietas yang mampu beradaptasi terhadap berbagai kondisi lingkungan,” katanya.
Leli menambahkan, arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sangat jelas, yakni agar pemerintah tidak mempersulit pelaku usaha di sektor perbenihan.
“Arahan Bapak Menteri adalah jangan mempersulit pelaku usaha di bidang perbenihan. Regulasi harus mampu memberikan kemudahan dan tentu saja tetap memperhatikan aspek keamanan dan kualitas. Mudah-mudahan pertemuan ini menghasilkan rekomendasi yang dapat menjadi masukan bagi penyempurnaan regulasi,” katanya.
Ia menjelaskan, PVTPP terus berupaya meningkatkan kualitas layanan perlindungan varietas tanaman sekaligus melakukan penguatan pada pendaftaran dan pelepasan varietas. Selain itu, PVTPP juga melakukan perbaikan pada perizinan pertanian melalui semangat kreatif, inovatif dan kolaboratif.
“Salah satunya adalah layanan pelepasan varietas tanaman dan pendaftaran varietas hortikultura. Melalui layanan tersebut, PVTPP mendorong pengembangan varietas unggul baru baik melalui metode pemuliaan konvensional maupun teknologi rekayasa genetika dan bioteknologi modern,” katanya.
Saat ini sejumlah lembaga penelitian telah mulai mengembangkan tanaman menggunakan teknologi genome editing. Salah satunya Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran yang sedang merakit tomat toleran suhu tinggi (heat tolerant) serta cabai yang tahan terhadap penyakit antraknosa.
Leli juga mengungkapkan bahwa dalam lima tahun terakhir Indonesia telah melepas beberapa varietas Produk Rekayasa Genetik (PRG) yang berasal dari berbagai komoditas. Bahkan, pelepasan varietas tebu PRG telah dimulai sejak 2013. Hingga kini, proses pengujian untuk pelepasan varietas baru terus berjalan.
Sementara itu, Ketua Komisi Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetik (KKH PRG), Prof. Bambang Prasetya, menilai seluruh pemangku kepentingan di sektor perbenihan perlu bersama-sama mendorong regulasi yang mampu mendukung pertumbuhan inovasi.
“Penelitian genome editing di Indonesia sebenarnya telah berkembang cukup pesat dengan dukungan berbagai lembaga penelitian, termasuk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta perguruan tinggi,” katanya.
Menurut Bambang, aspek terpenting adalah memastikan proses sertifikasi dan rekomendasi keamanan hayati dilakukan secara benar dan berkelanjutan. Ia mencontohkan pentingnya mekanisme pra-konsultasi proposal agar peneliti memperoleh kepastian sejak awal mengenai jalur regulasi yang harus ditempuh.
“Termasuk memastikan produk yang dikembangkan memang menggunakan teknologi penyuntingan genom serta melalui kajian tim ad hoc Komite Keamanan Hayati,” katanya.
Pandangan serupa disampaikan peneliti International Rice Research Institute (IRRI), Inez Loedin, yang menilai tantangan terbesar bukan lagi pada kemampuan melakukan penelitian, melainkan memastikan hasil inovasi dapat dikembangkan hingga akhirnya dimanfaatkan masyarakat.
Menurutnya, Filipina dapat menjadi contoh karena menjadi salah satu negara pertama yang menyusun regulasi genome editing berbasis pendekatan ilmiah.
“Regulasi harus disusun berdasarkan bukti ilmiah. Yang terpenting adalah regulasi mampu berjalan lebih cepat, transparan, dan dapat diprediksi tanpa mengurangi standar keamanan pangan,” katanya.
Sementara itu, Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Prof. Anas, menjelaskan bahwa pihaknya terus mengembangkan berbagai metode pemuliaan tanaman untuk membangun platform pemuliaan tanaman tropis yang dapat dimanfaatkan bersama industri benih maupun negara-negara di kawasan Asia.
“Penelitian tersebut diarahkan agar tidak menggunakan gen asing, sekaligus membuka peluang kerja sama riset yang lebih luas,” katanya.
Saat ini tim peneliti Unpad sedang mengembangkan tomat yang mampu tumbuh optimal di dataran rendah serta memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) untuk mempercepat identifikasi tanaman hasil mutasi.
“Kami menargetkan menghasilkan sekitar 400 hingga 500 mutan tomat. Untuk cabai, kami juga terus mengembangkan varietas yang memiliki ketahanan terhadap penyakit dengan memanfaatkan koleksi plasma nutfah cabai dari berbagai daerah di Indonesia,” katanya.
Ke depan, kata Prof Anas, Unpad ingin mengadopsi berbagai inovasi internasional guna menghasilkan varietas tomat dan cabai yang memiliki daya saing global sehingga mampu menembus pasar ekspor.
“Jadi melalui sinergi antara pemerintah, lembaga riset, perguruan tinggi dan industri, pengembangan teknologi genome editing diharapkan mampu melahirkan varietas unggul yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim, meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan Indonesia,” jelasnya.
Dilihat 13 kali
Ikuti terus informasi terbaru
Supaya selalu up-to-date!